Hiburan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan juga tentu saja dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia untuk membuat hati menjadi lebih senang dan juga lebih fresh. Salah satu hiburan yang banyak dipilih oleh masyarakat adalah bioskop di mana masyarakat bisa menonton berbagai macam film baik film Indonesia ataupun film hollywood.

Perbedaan Antara XX1, XX1 Premiere, Cinema 21, IMAX Dan CGV

Kehadiran beberapa mall baru yang ada di Indonesia sendiri memang turut serta untuk membuka referensi bioskop. Setelah beberapa tahun bioskop di Indonesia didominasi dengan jaringan bioskop 21, sekarang ini sudah ada lebih banyak pilihan bioskop yang bisa menjadi referensi Anda. dari berbagai jaringan bioskop tersebut, tentu saja terdapat beberapa perbedaan dan juga daya tarik tersendiri. Dan berikut ini adalah beberapa perbedaan antara XX1, XX1 Premiere, Cinema 21, IMAX dan CGV:

XX1

Untuk yang pertama adalah XX1, Cinema XX1 sendiri didirikan pertama kali di Plaza Indonesia Entertaintment X’nter di bulan Januari 2004 dengan menggunakan 4 buah teater reguler dan juga 2 buah teater Premiere. Dulunya diberi nama Studio XX1 dan menjadi satu – satunya cinema yang menggunakan sofa pada keseluruhan studio serta memiliki sertifikat THX di semua studionya.

Dan pada tanggal 1 Juli 2014 sendiri merupakan hari terakhir operasiona dari Cinema XX1 di tempat tersebut. Sebagian besar film yang diputar di bioskop ini sendiri merupakan film hollywood baik yang terbaru maupun film lama. Tetapi juga memutar film Indonesia yang mana banyak diminati oleh sebagian besar masyarakat.

Di akhir tahun 2008, seiring dengan perkembangan teknologi seperti 3D misalnya , serta semakin maraknya beberapa film yang berbasis format tersebut, maka Cinema XX1 ini turut serta mengaplikasikan teknologi yang bernama Dolby Digital Cinema 3D pada beberapa XX1 yang memang memadai. Jumlah dari bioskop yang mengadakan fasilitas tersebut memang semakin bertambah seiring dengan perkembangan teknologi film yang berformat tersebut.

XX1 Premiere

Kemudian untuk yang kedua adalah XX1 Premiere, pada dasarnya bioskop ini merupakan salah satu bioskop yang masih tergabung dalam Cinema 21 Group namun memang berbeda merk. Untuk jenis dari filmnya sendiri pada dasaenya bisa dibilang sama dengan XX1, tetapi yang menjadi perbedaannya adalah bioskop ini memang ditargetan untuk para pecinta film yang mana menginginkan fasilitas lebih mewah.

Selain itu juga tersedia juga The Premiere yang mana merupakan suatu konsep bioskop yang sudah dilengkapi dengan berbagai macam kemewahan termasuk lobby khusus, kemudian kursi khusus, selimut dan berbagai kemewahan lainnya. Untuk bioskop ini sendiri memang baru hadir di beberapa Cinema XX1 saja, dan sampai dengan saat ini sedang dikembangkan. Untuk harga tiketnya sendiri dipatok mulai dari Rp 50.000,- sampai dengan Rp 100.000,-.

Cinema 21

Lalu yang ketiga adalah Cinema 21, secara umum bioskop ini sudah dilengkapi dengan tata suara seperti Dolby Digital, bahkan beberapa di antaranya yang mana merupakan Cinema 21 versi yang dulu, sudah memiliki sertifikat THX, contohnya saja seperti Hollywood XX1, kemudian Karawaci XX1 dan juga Pluit Village XX1 pada area Jakarta.

Tidak hanya itu saja, beberapa dari Cinema 21 ini mengadaptasi suasana dan juga kenyamanan yang mana setara dengan Cinema XX!. Tetapu hal tersebut berdasarkan dengan pangsa pasar yang dituju dan juga perjanjian dari pihak bioskop dan pengelola mall. Untuk harga tiketnya sendiri lebih terjangkau dibandingkan XX1, yaitu mulai dari Rp 15.000,- sampai dengan Rp 25.000,-.

IMAX

Yang keempat adalah IMAX atau kependekan dari Image Maximum, bioskop ini sendiri merupakan sebuah proyeksi film yang mana memiliki kemampuan dalam menampilkan gambar yang ukuran dan juga resolusinya lebih besar dibandingkan dengan film konvensional yang lainnya. Pada dasarnya standar layar dari IMAX ini sendiri adalah 22 meter untuk lebarnya dan juga 16 meter untuk panjangnya, tetapi bisa juga lebih besar lagi.

CGV

Dan yang terakhir adalah CGV yang merupakan jaringan bioskop yang ada di Indonesia yang mana mengusung konsep Cultureplex. Bioskop ini memang bisa dibilang spesialisasi dari beberapa film independen dan juga film indie yang mana tidak bisa Anda temui di bioskop yang lainnya bahkan film dari beberapa negara seperti Thailand, Korea ataupun Jepang yang mana sering diputar secara khusus di bioskop ini.

Untuk Anda yang ingin menonton di CGV model apapun, baik itu Sphere X, 4DX, Starium ataupun yang lainnya, bentuk dan juga warna dari tiketnya akan tetap sama.

Untuk lebih detail mengenai jenis bioskop yang ada di indonesia silakan baca macam-macam bioskop di indonesia.


khedi

khedi

Mahasiswa jurusan tekhnik informatika di jakarta. Mulai rajin nge-blog 2 tahun yang lalu. Sangat suka dengan teknologi terbaru. Terutama produk apple tapi tidak mau di sebut fanboy. Suka film fantasi, sci-fi, action, dan animasi.

1 Comment

Ketahui lebih jauh 4 perbedaan IMAX 3D, REAL 3D, dan Dolby 3D · June 28, 2017 at 10:36 am

[…] Mendengar tentang IMAX 3D, Real 3D atau juga Dolby 3D, mungkin Anda berpikir bahwa itu semua sama saja, atau mungkin cuma […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Review film

Review spider-man homecomming, sedikit membingungkan untuk sebuah perkenalan

Disclaimer:  review ini adalah pendapat pribadi dari penulis yang bisa saja berbeda selera dengan anda. Sikapi dengan bijak jika tidak sependapat. Penulis yang mereview adalah konsumen dan bukan peneliti yang ahli. Jadi apa yang tertulis Read more…

Info film

Mengetahui Cara Kerja Film 3D dan Hubungannya dengan Kacamata 3D

Banyak orang di belahan dunia ini menyukai nonton film dan tentunya nonton fim di bioskop! Benar bukan? Hal ini tidak lain karena bioskop banyak menyajikan berbagai tayangan film yang beragam! Selain itu, dengan menonton film Read more…

Review film

Review film The Mummy (2017) menyeramkan layaknya film horor

Disclaimer:  review ini adalah pendapat pribadi dari penulis yang bisa saja berbeda selera dengan anda. Sikapi dengan bijak jika tidak sependapat. Penulis yang mereview adalah konsumen dan bukan peneliti yang ahli. Jadi apa yang tertulis Read more…

%d bloggers like this: