Aku memanggil dia (ayah) dengan bapak. Tapi seringnya tidak lengkap, jadi aku memanggil dia dengan “Pa”. Aneh tapi itu maunya. Ya..Dia selalu begitu, punya cara sendiri. Dia juga menerapkan kemauannya pada anak-anaknya. Dia memperhatikan apa yang dilakukan anak-anaknya. Namun jarang dia mendikte, jadi dia biarkan anaknya berbuat lalu di akhirnya di memberikan contoh bagaimana cara dan maunya.

Aku adalah anak pertamanya, dia juga punya cara tersendiri untuk itu. Ingat dulu ketika usia saya 5th dia membiarkan saya main sampai larut malam di rumah tetangga. Dia tahu persis jam berapa dia harus menjemput ku pulang, karena jam itulah aku sudah kecapean dan tertidur. “assalamualaikum” terdengar sayub , itu pasti bapak menjemput ku pulang karena akupun belum terlalu pulas jadi suaranya masih terdengar. Dia menggendong ku di punggung tanpa kain jarit (kain untuk menggendong), dia tahu itu sudah tak pantas untuk anak usia 5th. Ingatan itu yang sangat kuat dan kadang membuat aku tersenyum sendiri ketika mengingatnya.

SEPATU BARU BUAT BAPAK

Kemarin Setelah 23th seorang teman membuat aku teringat lagi bagaimana dia. Kami berbincang tentang uang bonus lalu dia menanyakan “untuk apa uang ini?, belum sempat aku balas di menyela. “belikan saja sepatu baru buat bapak mu di kampung!” .”ya” jawabku. Dengna membendung rasa yang tak bisa diungkapakan.

Ingat dulu bapak menginginkan sepatu yang dipakai oleh pak guru kala itu. Sepatu yang kini disebut pantofel sangat dia inginkan. Kadang-kadang warna hitamnya ia terheran. Itu karena di semir pak, andai dulu aku bisa menjawabnya seprti itu. Namun aku masih terlalu polos untuk mengatakannya.

Dia juga sangat membanggakan aku sebagai anak pertamanya. Ingat dulu ketika di sekolah ada study tour ke Bali. Kala itu masih kelas dua SMA. Ya.. tepatnya SMA Negeri 1 Banjarnegara. Perjalanan ke bali adalah hal yang luar biasa bagi anak kampung dan luar biasa untuk mebiayainya bagi seorang tukang kayu. Bapak adalah tukang kayu. Dengan biaya 500 ribu tentu suatu yang sulit baginya. Namun singkat cerita berangkatlah aku ke bali.

Pulangnya sewajarnya setiap bepergian akan ada oleh-oleh. Bapak sangat bersemangat membongkar tas berisai makanan yang tentu tidak begitu menarik baginya namun di terlihat begitu membanggakan apa yang aku bawa. Lalu di mengambil minyak urut GPU yang kalu itu masih jarang kemudian ia berkata pada semua ” ini oleh-oleh yang di bawa khedi dari bali, di sini tidak ada”. Dosanya aku karena minyak itu aku beli di supermarket dekat sekolah. tapi sudahlah bapak sudah membanggakannya.

Pernah juga dosa lain yang aku perbuat terhadapnya. Ngambek karena dijanjikan membuat sim namun tak kunjung di penuhi. Ingat dulu sempat aku mengurung diri di kamar layaknya anak orang kaya. Kini aku sadar betapa konyolnya hal itu.

Andaikan dia masih ada pasti akan kubelikan sepatu yang paling bagus dan mungkin ku ajak di ke bali dan di pilih sendiri oleh-oleh terbaik di sana. Ya.. dia mendahului kami pulang 3 tahun lalu. Dia meninggalkan ibu dan kami berempat anaknya. Haahh…tak apa , semua juga akan pulang.

Categories: Cerita Pendek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: